Pantang berarti "tidak melakukan sesuatu dalam kehidupan" baik untuk jangka pendek ataupun jangka panjang. Hal ini dilakukan karena alasan kesehatan, kebiasaan ataupun keyakinan tertentu.
Di daerah pantai selatan pulau Jawa ada keyakinan bahwa laki-laki tidak boleh mengenakan pakaian berwarna hijau. Bila pantangan ini dilarang, orang tersebut dapat ditelan ombak; menurut keyakinan masyarakat setempat, orang itu diambil menjadi suami Nyai Roro Kidul, penguasa pantai selatan.
Agama Hindu melarang pengikutnya memakan daging sapi, karena sapi (Nandi) adalah kendaraan dewa Syiwa.
Agama Yahudi menuntut berbagai pantangan dari para pengikutnya: menaati hari Sabat, memakan makanan yang kosyer, dll.
Dalam agama Islam, pemeluknya berpantang memakan makanan yang haram, mengenakan atau mengambil riba, memperlihatkan aurat kepada seseorang yang bukan muhrimnya, dll.
Umat Katolik mempraktikkan pantang sebagai alternatif aksi (selain puasa) yang dilakukan pada masa Lenten (pra-Paskah) (40 hari sebelum Paskah). Dalam melakukan pantang, seseorang dapat memilih kebiasaan atau makanan yang akan dihindari selama masa pra-Paskah itu. Misalnya, seorang memilih untuk berpantang merokok selama 40 hari.
Umat Advent berpantang memakan daging babi, binatang laut yang tidak bersisik (mis. ikan hiu, udang, kepiting, kerang, dll.), meminum minuman keras atau bahkan juga kopi dan teh.
Banyak orang sekarang memilih untuk berpantang memakan daging dan hidup sebagai vegetarian karena keyakinannya bahwa membunuh binatang itu salah, atau keyakinan bahwa sayur-sayuran lebih menyehatkan tubuh daripada daging. Jainisme adalah salah satu agama yang secara ketat menuntut pemeluknya menjalani kehidupan sebagai vegetarian.
Agama | Kesehatan | Antropologi
Abstinens | Abstinenz | Abstinence | Abstinents | Abstinence | 小斎 | Post (asceză) | Abstinens